Informasi terbaru dari brand Hermes akan membangun pabrik peternakan buaya terbesar di Australia dekat kota Darwin. Brand Hermes memang menggunakan kulit buaya sebagai bahan utama untuk beberapa desain tasnya nih lavladies. Untuk itu, Hermes memutuskan untuk membangun peternakan buaya agar produksi untuk bahan kulit buaya yang digunakan dapat terpenuhi. Bagaiamana informasi selengkapnya? Baca di bawah ini ya!
Peternakan Buaya untuk Hermes

Brand Hermes telah bekerja sama dengan petani Mick Burns, yang dikenal di daerah tersebut sebagai Raja Buaya, untuk membeli The Sweet Life di Lambells Lagoon yang rencananya akan mereka ubah. Situs tersebut sebelumnya merupakan perkebunan melon dan pisang.
Hermes membeli situs itu seharga $ 7,25 juta. Diharapkan 50.000 buaya akan dibudidayakan untuk diambil kulitnya yang akan digunakan untuk tas kulit buaya khas dari brand Hermes tersebut.
Tindakan tersebut akan menyebabkan peningkatan 50 persen pada jumlah buaya yang dibudidayakan di Teritorial Utara Australia. Tindakan Hermes bertentangan dengan merek fashion mewah lainnya seperti Chanel dan Gucci yang mulai beralih dari penggunaan kulit dan bulu binatang yang eksotis. Keputusan tersebut mendapat reaksi keras dari aktivis hak-hak hewan di Twitter yang mengecamnya sebagai ‘tidak perlu’ dan ‘memberontak’.
Seorang pakar industri peternakan buaya mengatakan kepada Mail Online bahwa langkah tersebut akan menjadi pertumbuhan yang cukup besar bagi industri secara keseluruhan. The Guardian melaporkan bahwa langkah Hermes itu pun langsung dibanjiri kecaman dari para kelompok aktivis hewan ketika beritanya beredar. Mereka mengaku prihatin dengan kesejahteraan buaya yang nantinya akan ditampung dan menyesalkan rencana yang dinilai sudah tidak lagi mengikuti mode terkini.
Aktivis kecam niatan Hermes
Brand luxury bag papan atas yang menggunakan kulit buaya biasanya memiliki kisaran harga hingga ratusan juta rupiah. Dengan penghasilan yang menggiurkan, memang untuk dapat benar-benar ‘melepaskannya’ pun akan sangat sulit. Tetapi Nicola Beynon dari Humane Society International mengatakan bahwa kini banyak merek-merek termasuk Chanel, Mulberry, hingga pemilik Calvin Klein dan Tommy Hilfiger telah mengadopsi kebijakan kesejahteraan hewan yang ‘menentang penggunaan kulit hewan eksotis seperti buaya’.
Dr. Jed Goodfellow selaku petugas kebijakan senior di RSPCA Australia juga mengutarakan pemikirannya yang mendukung pernyataan tersebut. Menurutnya, masyarakat kini telah menunjukkan penentangan terhadap pembunuhan hewan apapun di mana tujuan kematiannya adalah untuk menghasilkan barang mewah yang tidak penting seperti bulu atau bahan kulit. Tidak hanya itu, keputusan pembangunan peternakan juga dikhawatirkan dapat menyebabkan risiko lainnya terhadap lingkungan, sehingga Goodfellow berharap agar pemerintah Australia dapat meninjau ulang kode etik negara terkait dengan isu yang saat ini beredar.
Otoritas setempat sudah beri lampu hijau
Walau ditentang, wilayah Northern Territory di Australia sendiri sebenarnya telah menjadi rumah bagi beberapa peternakan dan pemasok global bagi kulit buaya untuk berbagai merk brand sejak lama. Pada periode 2018/2019 saja, laporan menyebutkan telah terdapat lebih dari 24.600 kulit buaya yang diekspor, dimana penghasilan dari industri peternakan buaya pun mendongkrak perekonomian hingga lebih dari Rp1 triliun di wilayah tersebut.
Sebuah laporan juga menyebutkan bahwa produsen kulit buaya di sana telah terkenal sebagai penyedia etis yang mendorong produsen mode kelas atas seperti Hermes dan Louis Vuitton untuk membeli peternakan lokal di sana demi mengamankan rantai pasokannya.
Menurut Geoff McClure, konsultan peternakan buaya yang telah terlibat dalam industri tersebut sejak 1980-an, alasan mengapa Hermes dan Louis Vuitton menyukai buaya air asin Australia adalah karena buaya-buaya di sana memiliki lebih banyak sisik per unit di area perut. Selain itu, Northern Territory juga memiliki iklim hangat yang cocok untuk menjadi rumah bagi peternakan buaya.
Rencananya pengembangan untuk proyek akan mencakup pembuatan laboratorium inkubator telur, tempat penetasan, kandang pembiakan, serta juga akan menyediakan infrastruktur pendukung seperti bengkel, ladang tenaga surya, rumah akomodasi dan tempat penyimpanan bahan bakar. Dan berdasarkan dokumen yang diserahkan ke Otoritas Perlindungan Lingkungan di wilayah tersebut, peternakan itu direncanakan akan mempekerjakan 30 orang untuk membiakkan sekitar 4.000 buaya dan kemudian mengembangkannya lagi hingga sebanyak 50.000 ekor.
Pendapat lain bahwa Hermes sebenarnya berjasa dalam konservasi buaya
Meski diserang dan dituduh sebagai brand “penyiksa buaya”, tetapi The Guardian melansir bahwa brand Hermes rupanya memiliki kebijakan kesejahteraan hewan yang bertuliskan: “Grup telah menetapkan dan menerapkan kebijakan kesejahteraan hewan yang sangat ketat dan berbasis sains. Ini berlaku dalam lingkup tanggung jawab langsung serta untuk mitra eksternalnya, dengan pendekatan berbasis rantai pasokan tertentu.”
Laporan brand Hermes juga mengatakan bahwa semua peternakan buaya milik perusahaan telah menandatangani piagam praktik terbaik, di mana perusahaan telah bekerja di seluruh industri untuk meningkatkan standar kesejahteraan hewan yang telah ditinjau oleh kelompok buaya di Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam. Perwakilannya yakni Prof Grahame Webb pun menyebutkan bahwa penangkaran buaya perusahaan itu sebenarnya telah membantu mendanai upaya konservasi yang ada di wilayah tersebut.
Meskipun brand Hermes “diserang” oleh aktivis hak-hak hewan, tetapi sebenarnya ada hal lain yang juga bagus untuk diceritakan. Brand Hermes adalah perusahaan yang sangat konservatif – mereka mencoba melakukan hal yang benar. Australia bahkan memiliki reputasi yang sangat baik untuk program pengelolaan buaya di seluruh dunia.
Saat ini jumlah buaya air asin di alam liar Australia jauh lebih stabil dan sehat dibandingkan dengan dulu saat dimana perburuan buaya secara liar masih sering terjadi. Bagaimanapun pendapat dari berbagai pihak, tentu memiliki sisi positif dan negatif ya lavladies. Bagi kamu yang memang kolektor brand Hermes nggak perlu khawatir ya!






